Oleh: weebee | Februari 24, 2014

SOLO, SALA DAN SURAKARTA #salahjudul

Tulisan semrawut ini niat awalnya Menganalisa Manajemen Komunikasi Kota Solo dalam Bidang Kesenian dan Kebudayaan. Namun saya sadar kalau tidak berhak menganalisa apalagi tanpa data yang lengkap. Alangkah lebih bijak jika pembaca menyadari jika saya adalah pemilik blog ini, maka berilah hak kepada saya untuk sekedar menulis, sekenanya.

https://i1.wp.com/www.hujanpelangi.com/wp-content/uploads/2013/11/kota-solo.jpg

Kota Surakarta, yang lebih dikenal dengan Solo mempunyai sejarah panjang tentang kesenian dan kebudayaan. Didalamnya terdapat proses panjang berkembangnya seni dan budaya di masyarakat kota bengawan, dimulai dari keraton yang menjadi pusat kebudayaan mataram khususnya dan jawa umumnya.

Seiring perkembangan tata kelola pemerintahan, peran keraton sebagai pusat seni dan budaya mulai bergeser oleh proses kreatifitas masyarakat. Pada umumnya masyarakat mengadopsi seni dan budaya yang populer. Namun tak sedikit juga yang setia mempertahankan seni budaya daerah yang dibawa leluhur.

Seni dan Budaya di Kota Solo berkembang sesuai generasinya. Dalam kisaran satu dekade terakhir, seni budaya di Solo nampak meriah. Dilihat dari agenda kota Solo yang padat dengan acara kirab, pagelaran seni, pameran dan pertunjukan, dapat dikatakan proses perkembangan seni dan budaya di Solo cukup dapat diharapkan.

ANALISA

Sedikitnya terdapat 50 event di Solo pada tahun 2013. Di bulan September sendiri ada 4 event besar, antara lain (sumber:tentangsolo.web.id) :

  • Grand Final Putra Putri Solo. 7 September 2013 di Balaikota Surakarta. Puncak acara dan penobatan Putra-Putri Solo 2013.
  • Solo Keroncong Festival. 13-14 September 2013 di Kawasan jl. jendral Sudirman. Menampilkan para seniman keroncong local, nasional, maupun International dalam upaya melestarikan musik tradisi dan memupuk rasa nasionalisme.
  • Solo International Performing Art (SIPA). 20-22 September 2013 di Pamedan Pura Mangkunegaran. Pegelaran seni internasional yang menampilkan artis-artis dari dalam dan luar negeri yang diikuti sekitar 7 – 10 negara asing.
  • Solo City Jazz. 27-28 September 2013 di Ngarsopuro/Sriwedari. Gelaran Tahunan musisi Jazz Nasional dan International yang secara rutin di gelar di Solo, sebagai tolok ukur perkembangan musik jazz dengan menampilkan artis-artis Jazz Nasional maupun International.

Mayoritas event di Solo memang berwujud pagelaran atau Performing Art. Pagelaran Musik lebih dominan dibandingkan yang lain. Dilihat dari mobilisasi massa, pagelaran khususnya musik memang dapat menyedot minat masyarakat untuk berbondong-bondong menyaksikan. Tak kalah dengan Music Performance, Pameran dan kirab juga dapat mendatangkan masa yang tak sedikit.

Dalam pengelolaan event di kota Solo, Disbudpar menjadi tangan panjang Pemkot. Dalam tataran teknis, dinas dibantu oleh masyarakat melalui Lembaga kesenian, Event Organizer ataupun Komunitas-komunitas di Kota Solo. Sebagai contoh, Solo Batik Carnival (SBC). Event yang mengadopsi Jember Batik Carnival tersebut dikelola oleh Mataya Heritage, sebuah lembaga yang berfokus pada event seni dan budaya.

Ada beberapa pihak penyelenggara yang juga bekerjasama dengan instansi pendidikan yang terkait event tertentu. Sebagai contoh pelibatan siswa SMKI dan mahasiswa ISI Surakarta dalam pagelaran sendra tari Matah Ati, SIPA dan beberapa event yang lain. Hal ini menjadikan kalangan akademisi mendapatkan apresiasi dalam bidang yang ditekuninya. Ada juga kegiatan yang melibatkan masyarakat dari kelurahan-kelurahan yang ada di Solo. Salah satu contoh adalah Solo Kampoeng Art.

Adanya komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat ini berdampak pada bertaburnya event di kota Solo. Hal ini karena masyarakat merasa dilibatkan, baik sebagai panitia maupun penonton. Dengan begitu, kesenian di kota Solo dapat bertahan dan berkembang.

 

Oleh: weebee | November 4, 2012

SEPI

Kondisi terakhir masyarakat kita, minimal masyarakat yang saya lihat, menunjukkan kesenangannya dalam hal ‘ngobrol’. Tak hanya kaum hawa, sang adam-pun ikut dalam arus ini. Saking hoby-nya ngobrol, semua media menyediakan layanan untuk memfasilitasinya. Dahulu, ada kirim surat, berkembang sehingga ada telepon kemudian layanan pesan singkat alias sms. Itu semua tercipta untuk memenuhi hasrat ngobrol tadi. Sampai detik ini masih terus berkembang media-media serupa, YM, facebook, Twitter, WhatsUp, BBM dll. Semuanya adalah layanan khusus ngerumpi alias ngobrol.

GENERASI BISU

Pernahkah kita mendapati suasana dimana ada sekelompok orang yang berkumpul namun tak ada interaksi diantara mereka, bisu. Dilihat dari mimik wajah, semua menunjukkan sedang beraktifitas, mulai dari serius, heran, hingga tersenyum dan tertawa sendiri. Dipandang dari tatapan matanya, hanya sesekali diantara sekelompok orang ini saling berpandangan, selebihnya mereka melihat layar kecil yang ada di tangan mereka. Apalagi kalau bukan telepon selular, apalagi kalau tidak I-Pad, apalagi kalau bukan sms, fb, twitter, whatsUp, BBM dan sejenisnya? Ngobrol.

Pemandangan diatas sering kita jumpai jika kita dalam satu angkutan umum, ruang tunggu rumah sakit, kampus, hingga paling ekstrim adalah di ruang makan keluarga. Sang ayah nyari-nyari berita via I-Pad, ibuknya BBM-an sama teman arisan, anak-anaknya whatsUp dan main facebook plus twitter. Diam di meja makan sampai akhirnya si pembantu bilang “Mari makanannya sudah siap”. Barulah mereka saling pandang sejenak dilanjutkan menyantap sajian yang ada. Kemudian sang pembantu kembali ke kamarnya dan menulis “Sarapan udah siap nih, tinggal cuci dan strika. hufffffttt”, tentunya di akun jejaring sosialnya. Hadeeehhh…

Sedikit celotehan saya tadi sekedar menjadi cermin dan perhatian saja, barangkali bisa dipake untuk bahan obrolan selanjutnya. Selain itu juga untuk mengingatkan bahwa kita saat ini merasa ramai didalam kesepian dan merasa sepi ditengah keramaian. Sekian.

Oleh: weebee | Mei 29, 2012

SEMAKIN GAK PENTING MAKA SEMAKIN PENTING

Saat masih semester muda di jurusan Ilmu Komunikasi ada mata kuliah Komunikasi Interpersonal. Pengertian sederhananya adalah proses komunikasi yang terjadi antara individu satu dengan individu lain, dalam hal ini konteksnya adalah personal. Kalau boleh saya menyederhanakannya, komunikasi interpersonal adalah komunikasi satu lawan satu. Dalam teori komunikasi interpersonal terdapat bab yang membahas jarak intim seseorang. Dalam berhubungan dengan seseorang, secara sadar ataupun tidak, kita senantiasa mengatur jarak. Hal ini dapat kita rasakan ketika bertemu orang yang sebelumnya tidak kita kenal sama sekali. Jarak ideal yang kita pasang adalah antara 2-3 meter. Sedangkan jika berbincang dengan orang yang setiap hari bertemu di tempat kerja, kita cenderung lebih mendekatkan fisik kita. Lain lagi ketika kita berbincang dengan keluarga.

Di lain hal terdapat teori NEV, teori ini mengatakan bahwa jika kita tidak mempunyai respek (sederhananya, tidak suka) dengan seseorang, maka kita cenderung menjaga jarak dan menunjukkan bahasa tubuh yang terkesan menghindar. Namun jika kita ada respek terhadap seseorang yang lain, maka setiap orang itu mengajak bicara maka kita akan mendekat serta memperhatikannya dengan seksama. Pernahkah kamu melakukan hal itu? Tentunya pernah, namun tidak sadar. hehe

Hal yang sama juga berlaku ketika kita sedang sms atau chating dengan orang lain. Misalnya kita baru gabung di sebuah komunitas yang disitu banyak orang yang belum kita kenal. Seperti biasa, kita saling bertukar contac person. Suatu saat akan muncul secara tiba-tiba sms “Selamat pagi, BTW kita rapat lagi kapan ya?”. Kemudian secara simpel menjawab “Insya Allah kamis minggu depan. Tapi lebih jelasnya tanya pak ketua saja”. Jawaban dan pertanyaan sama-sama serius.

Lain waktu ada sms lagi “Hi, besok berangkat rapat gak?” langsung dijawab “Berangkat, tapi agak telat”. Bahasa sedikit melunak.

Semakin lama, jika keduanya mempunyai intensitas komunikasi yang masif maka akan ada sms yang menurut saya konyol.hehehe.

Kenapa konyol? perhatikan saja sms seperti ini:

“Hi, udah makan belum?”.

“Belum, ni lagi ada job”

“Makan dulu dunk, nanti sakit”

“Nanti aja, belum laper”

Konyol, bukan? Heei.. kamu siapa sampai nanya udah maem belum, nanti sakit? ibuknya enggak, keluarga juga enggak, baby sitter apalagi, pacar bukan, sahabat juga bukan. Sok perhatian banget.

Tapi itulah jarak intim yang diciptakan. Ketika keduanya sudah memiliki intensitas komunikasi yang besar maka secara tidak sadar menciptakan jarak intim yang dekat. Hingga terkadang keduanya punya bahasa sendiri ketika berkomunikasi. Pernahkah kita merasakannya saat berkumpul bersama beberapa orang, kemudian ada seseorang yang berujar “Hush.. jangan ngomong tentang jambu disini, ada yang tersinggung lho”. Disaat teman-teman yang lain tidak ‘ngeh’ dengan omongan orang tersebut tapi ada satu anak yang bereaksi “Heeiiii… shiiitt….”.  Nah, hanya kedua orang tersebut yang tahu kode pembicaraanya.

Jarak intim disini tidak hanya berlaku bagi seseorang dengan lawan jenis, namun berlaku universal. Jika kita ingin melihat seberapa intim-kah hubungan seseorang dengan orang lain? lihat apa yang ia percakapkan saat sms, chating ataupun obrolan kesehariannya “Semakin gak penting apa yang mereka omongkan, maka semakin intim hubungan mereka”

Semoga berguna.

“Ngomong-ngomong, lagi ngapain? udah maem?”

#nggakpentingbanget

Oleh: weebee | Mei 27, 2012

POST POWER SYNDROM

Post Power Syndrom(PPS) secara sederhana merupakan gejala psikologis yang terjadi setelah seseorang lepas dari kuasanya. Biasanya PPS terjadi pada seorang pejabat yang sudah habis masa jabatannya, atau seorang di organisasi atau komunitas yang sudah keluar. Perilaku PPS terjadi karena orang yang sebelumnya dihormati, disegani serta ditaati omongannya kemudian secara cepat sudah tidak dianggap lagi karena sudah purna tugas dan dirasa tidak mempunyai wewenang lagi. Hal ini kemungkinan juga dapat terjadi pada kita yang masih muda.

Saat di Elementary School alias Sekolah Dasar, saya termasuk anak yang diajarkan disiplin ketat oleh orang tua. Mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur semua ada waktunya. Yang tak luput dari ‘kuasa’ orang tua adalah kegiatan pasca sekolah. Jam pelajaran SD (pada zaman saya tentunya) hanya sampai pukul 12.30. Setelah itu diisi dengan eks-kul.

Entah ‘bawaan’ dari orangtua atau memang alami datangnya, saya bisa dikatakan tak punya waktu senggang selepas jam pelajaran. Hari-hari saya diisi dengan kegiatan ekstra yang saya sendiri tidak terlalu paham apakah semasa SD saya sudah mengerti manfaat kegiatan-kegiatan tersebut, atau saya sangat cerdas sehingga dapat berfikir bahwa keseimbangan fungsi otak kiri dengan otak kanan harus imbang, ataukah hanya sekedar ikut-ikutan temen dan orang tua menyetujui?. Sepertinya opsi terakhir adalah jawaban logisnya. hmm. Saya masih ingat kegiatan ekstra sewaktu SD. Senin TPA, Selasa ekstra tari, Rabu TPA, Kamis Karawitan, Jumat TPA, Sabtu Marchingband. Hanya menyisakan hari minggu yang biasanya “wajib ‘ain” untuk ke rumah kakek dan bermalam disana.

Suatu ketika saat kelas 6, kebijakan sekolah adalah tidak memperkenankan siswa kelas 6 untuk mengikuti kegiatan ekstra di sekolah. Kala itu mulai diberlakukan 100% off adalah marchingband & tari. Untuk karawitan masih menyisakan tugas 1x pentas. Saat itulah dalam seminggu ada dua hari yang kosong selepas pulang sekolah. Waktu itu saya juga bingung apa yang harus saya lakukan saat kosong?. Akhirnya di setiap sabtu saya melihat adik kelas yang sedang berlatih marchingband. Guru saya yang tahu bahwa saya sudah ‘tidak berhak’ latihan bertanya “Ngapain kesini, ada acara?”. Konyol.

Setelah dirasa-rasa, ternyata saya pengin mukul bassdrum lagi seperti dulu. Saya juga tak rela bussdrum yang ada dipegang oleh adik kelas. Yang lebih parah lagi adalah saya sakit hati ketika ada guru yang mempertanyakan keberadaan saya di tempat latihan, serasa kehadiran saya sangat tak diharapkan.

Pernahkah semasa kecil Anda mengalami hal yang serupa? Ataukah hanya saya seorang yang mengalaminya?. Amat sangat konyol jika itu terjadi. Pastinya Post Power Syndrome adalah hal yang lumrah terjadi, yang akhirnya kita akan dapat melaluinya ketika kita telah menemukan aktifitas yang lain.

Pelajaran terpenting dari Post Power Syndrom adalah keharusan kita untuk tidak mengharap penghormatan,  pemuliaan serta pujian dari makhluk. Karena dapat dipastikan kita akan kecewa. Hanya Tuhan yang pantas sebagi tujuan.

“Ikhlas bukanlah tidak mengharapkan balasan apapun, tapi ikhlas adalah mengharap suatu balasan dari selain makhluk”

Oleh: weebee | Mei 27, 2012

TAMBAH BEBAN TAMBAH KUAT

Saat saya membuat tulisan ini, kondisi fisik saya sedang tidak 100% fit. Banyaknya agenda membuat waktu untuk sekedar merebahkan badan sangat minim. Dalam kondisi seperti itu saya berfikir untuk berdoa kepada Tuhan agar beban yang saya pikul baik di pikiran ataupun aktifitas tubuh dapat dikurangi sehingga memiliki banyak waktu istirahat.

Sebenarnya aktifitas rutin saya sangat sederhana dan dapat saya handle dengan timeline yang jelas. Namun mulai minggu lalu saya diberi amanat baru untuk ikut menjadi lokomotif di salah satu organisasi nasional. Alhasil, timeline yang selama ini saya buat sedikit harus dirubah. Lebih padat tentunya.

Dalam sebuah pertemuan di organisasi tersebut, saya diberi cerita dari senior bahwa organisasi ini bukanlah didirikan tanpa kerja keras. Semua butuh perjuangan. Kemudian beliau menceritakan bahwa selama ini sangat banyak yang ia tangani. Semua menguras pikiran dan tenaga. Tak cuma itu, pengorbanan materipun dilakoninya. Kisahnya berlanjut dengan menceritakan para sespuh pendiri organisasi ini. Para sesepuh hampir tidak ada waktu kosong di dalam kehidupannya. Ketika selesai di satu tugas, tugas lain menanti. Terakhir, beliau mengingatkan agar menjadi generasi penerus yang tidak manja dan cengeng. Apa yang menjadi tugasmu sekarang hanyalah meneruskan perjuangan para pendiri, sesepuh serta senior kalian.

Hmmmm… akhirnya dalam kondisi lemah, saya berfikir untuk membatalkan doa saya kepada Tuhan . Saya tidak jadi meminta untuk dikurangi beban saya, tapi saya meminta agar saya diberi kekuatan agar dapat mengangkat beban tersebut.

“TUHAN, AKU TIDAK MEMINTA UNTUK DIKURANGI BEBAN DALAM DIRIKU,

NAMUN AKU MEMINTA UNTUK DIBERI KEKUATAN YANG CUKUP PADA PUNDAK INI AGAR DAPAT MENGANGKAT BEBAN TERSEBUT”

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.