Aksi-aksi mahasiswa sudah berlangsung cukup lama. Semakin hari semakin ia menguat hingga alat-alat negara tak mampu membendungnya. Inisiatif ABRI untuk “berdialog” dengan mahasiswa tak mampu meredam geliat massa mahasiswa. “Dialog” itu nyata-nyata ditujukan untuk meredam aksi mahasiswa. Hal ini nampak jelas dari pesan Letjen. Wiranto yang kurang lebih berbunyi, bahwa dengan adanya dialog berarti aspirasi mahasiswa sudah didengar, yang karenanya mahasiswa tidak perlu melakukan aksi-aksi lagi. Padahal cara-cara kekerasan fisik seperti penggebukan, penyemprotan gas air mata, penembakan, dan penculikan justru menjadi pukulan balik politik bagi rejim. Cara-cara itu bukannya membuat mati aksi-aksi massa, melainkan justru ibarat menyiram bensin ke dalam api.
Namun, yang sangat menyedihkan adalah bahwa tanda-tanda perubahan –reformasi yang cepat dan mendasar di segala bidang, terutama ekonomi, politik dan hukum– belumlah nampak. Sebaliknya, Soeharto dengan seenaknya menyatakan bahwa reformasi baru bisa dimulai setelah tahun 2003. Ini menunjukkan bahwa aspirasi mahasiswa dianggap ‘enteng’ oleh Soeharto. Tekanan-tekanan dengan aksi-aksi mimbar bebas di berbagai kampus dianggap sebagai angin lalu oleh Soeharto. Ada juga tanda-tenda hendak melakukan tindakan represi fisik yang lebih berat. Sinyalemen ini nampak dari ucapan panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia –ABRI (Pangab) / Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam) yang mengatakan bahwa aksi-aksi mahasiswa sudah mengarah ke tindakan anarkis. Dengan kata “anarkis” itu, mereka (ABRI) memiliki legitimasi untuk memberantasnya.
Mengapa Soeharto dengan seenaknya menganggap angin lalu terhadap aspirasi mahasiswa, sementara ABRI tetap melakukan tindakan represif ? Satu hal pokok yang belum ditemukan di dalam gerakan reformasi kita saat ini adalah BELUM TERLIBATNYA RAKYAT PEKERJA DALAM AKSI-AKSI MENUNTUT REFORMASI.
Keresahan di kalangan kelas pekerja begitu nyata. Lihatlah berapa juta buruh yang di-PHK-kan dan dipotong upahnya ? Berapa ratus ribu pengemudi, kondektur, dan pekerja transportasi lain yang menderita akibat mahalnya suku cadang, naiknya setoran, naiknya bahan bakar minyak (BBM) dan turunnya jumlah penumpang ? Berapa puluh juta petani yang gagal panen akibat kemarau panjang, mahalnya pupuk, mahalnya pestisida, dan merajalelalnya hama belalang ? Contoh ini dapat kita perpanjang lagi !
Meluasnya keresahan di kalangan rakyat pekerja sudah nampak jelas di depan mata. Hal ini terbukti dengan maraknya pemogokan angkutan umum dan pemogokan buruh manufaktur. Namun, gejala-gejala tersebut belum meluas dan tuntutannya masih bersifat ekonomis. Bahkan kerap terjadi kontradiksi di antara rakyat sendiri, seperti kasus bentrokan antar pengemudi angkutan di Tangerang dan percekcokan antara kondektur dan penumpang. Tidak meluasnya aksi rakyat pekerja serta tuntutan yang masih bersifat ekonomis adalah diakibatkan belum terorganisasikannya mereka di bawah satu perlawanan.
Selama rakyat pekerja belum terlibat dalam aksi-aksi politik, masih kuatlah posisi Soeharto. Posisi kelas pekerja ini sangat strategis sebagai pemutar roda perekonomian –selain dari segi jumlah mereka pun mayoritas. Apabila rakyat pekerja mulai melakukan aksi-aksi secara meluas dan terorganisasi, maka jelaslah Suharto akan menemukan perlawanan yang lebih keras akibat roda perekonomian yang terancam lumpuh total.
Oleh karena itu, tidak bisa tidak, gerakan reformasi kita haruslah melibatkan rakyat pekerja dalam aksi-aksi massanya. Siapa yang harus mempeloporinya adalah, tidak lain, mahasiswa. Mahasiswa harus berusaha melibatkan rakyat pekerja dengan berbagai cara, seperti mengundang mereka terlibat aksi mahasiswa ataupun, sebaliknya, mahasiswa terlibat dalam aksi-aksi rakyat pekerja. Hal lain yang juga bisa dilakukan mahasiswa adalah dengan melakukan aksi di tempat kerumunan rakyat, memberi penerangan tentang reformasi kepada rakyat, baik melalui orasi, diskusi, selebaran, terbitan, dan sebagainya.
Aksi mahasiswa harus mendorong rakyat mengambil sikap politik pro-reformasi. Mahasiswa harus mendorong buruh berteriak, “Kami tidak mau menjalankan mesin selama Indonesia masih dipimpin Soeharto dan selama tidak ada reformasi !” Para pengemudi angkutan umum harus didorong berteriak, ” Kami tidak akan menjalankan angkutan umum selama Suharto masih berkuasa dan selama belum ada usaha reformasi yang mendasar !” Demikian seterusnya.
Naiknya harga BBM akan diikuti semakin melambungnya harga-harga barang. Hal ini dapat dijadikan momentum untuk melakukan aksi-aksi bersama rakyat. Mahasiswa harus sekuat tenaga menjebol upaya ABRI yang berupaya mengisolasi mereka dari rakyat pekerja. Posisi rakyat pekerja sangat menentukan, yakni sebagai pemegang urat nadi aktivitas produksi ! ***
Sumber:
PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK ( P R D )
PEOPLE’S DEMOCRATIC PARTY, INDONESIA