JURUS KATAK KECIL

“THINK…THINK…THINK….THINK….THINK…. … … … CANCEL!!”

Satu rumus diatas aku dapat dari Bambang (Benk)Mintosih, General Manager Lor In Hotel Solo saat ikut sekolah di SENTRICO(Solo Entrepreneur College), 23 Januari 2010.

Diluar expektasi, melihat Benk Mintosih. Bukan pertama aku melihatnya tapi selama ini mataku hanya melihat dia di layar kaca lokal sebagai host acara kuliner pasar. Ternyata Lor In pun dia pegang, selain itu punya 9 perusahaan. Rosalia Indah pun menunjuknya sebagai bussiness consultant. LUARR BIASA!! (sedikit salut untuk pak Benk)

Pak Benk bercerita tentang masyarakat katak(kodok) hijau yang mengadakan sayembara memanjat tower telephon seluler. Secara logika memang tak dapat di akal namun hal ini dapat dijadikan cerita bermutu nantinya.

Masyarakat katak hampir seluruhnya tak punya ekspektasi yang baik. Mulutnya hanya ngomong “AH, Mana Mungkin Katak Kaya’ Kita bisa sampe Puncak?!!” sementara yang lain ” Gak usah aneh2 deh, jelas2 kita katak gk bisa sampe sana” ada juga yang bilang “Mending kita jalani yang lumrah2 aja, biasa2 aja. Daripada sesumbar”.

Namun, beberapa katak tak goyah oleh omongan miring tersebut. Tibalah hari H sayembara. Belasan katak hadir untuk mengikutinya,sementara ratusan yang lain hanya melihat di dekat menara sambil memberikan kata2 tak sedap kepada peserta.Sayembara dimulai, masing2 katak punya strategi dan kemampuan memanjat masing2.

Ada 5 ruas yang ada di menara tersebut, belasan katak siap tancap gas untuk menaiki satu per satu tangga. TERNYATA, banyak katak yang berhasil memanjat, ruas pertama berhasil mereka taklukkan. Penonton dibawah terkagum-kagum. “Bagaimana Bisa??” dalam hati mereka berkata.  Kekaguman mereka luar biasa.

Tiba untuk peserta mendaki ke ruas berikutnya. Dalam perjalanan ini banyak katak yang tumbang, hampir semua. Penonton kembali mengeluarkan cacimaki yang tak terkendali ” Apa aku Bilang, Jelas gak bakal bisa naik!!!”. Peserta pun jadi miris jadinya, sebagian dari mereka mengurungkan niatnya serta memilih bergabung dengan penonton. Sementara ada beberapa yang tetap melanjutkan naimenara. Hal ini berlangsung di setiap ruas menara.

Beberapa katak yan masih semangat hanya menyisakan 1 ruas lagi…. satu per satu mencoba menuju puncak yang kurang sejengkal. Malang memang, seluruh peserta kembali terjatuh…. Penonton lagi2 mengolok2 keNEKATan peseta. Akhirnya seluruh peserta menyerah untuk memanjat menara tersebut, tak ada yang bisa. Mereka membuat permakluman bagi mereka sendiri “aku kan katak, katak kan gak bisa manjat”.

Akhirnya penonton merasa menang karena tak ada yang dapat memanjat menara tersebut. Namun, tak terbayangkan di benak mereka ada satu katak kecil yang nekat untuk mencoba lagi. Sontak penonton bergemuruh “GOBLOK!! UDAH JELAS2 GK BISA TETEP NEKAT”.  Dasar anak kecil, sembrono.

Yang terjadi adalah katak kecil itu jatuh sebelum sampai puncak. Dia nekat mencoba lagi. berkali kali mencoba diringi cemooh penonton yang tak karuan “GILA”.

Tak disangka!!.  Penonton tercengan, diam tanpa kata, matanya melotot kedepan. Alisnya terangkat ke atas, nafasnya terhenti, semua menelan ludah. tak bergerak. tubuh bergetar, menggigil……. katak kecil tersebut akhirnya menuju puncak… dia berhasil mencapai puncak menara setelah sekian kali mencoba diiringi nyanyian sinis penonton.

Tepuk tangan penonton bergemuruh menyambut kemenangan sang katak kecil. Semua memuja dan memberi semangat serta ada rasa bangga karena ada katak yang bisa memanjat menara.

Setelah sampai dibawah, katak kecil tersebut dicerca pertanyaan ” Kok bisa kamu manjat setinggi itu, aku aja udah gak betah di cacimaki penonton?”.  Katak kecil itu diam, tak menjawab…..

Setelah diusut……. ternyata katak kecil tersebut… TULI.

“TUTUP TELINGAMU UNTUK CEMOOH ORANG DIDEKATMU YANG DAPAT MENGHALANGI KESUKSESANMU”

terimakasih pak BENK!!

REGENERASI SISTEMIK

REGENERASI SISTEMIK*

Oleh: Irawan Wibisono**

“REGENERASI ATAU MATI…..

INOVASI ATAU TERGANTI…!

The right man on the right place.

Seorang manusia dapat memberikan respons yang beraneka ragam sekalipun diberi input yang sama. Apalagi bila input tersebut diberikan pada manusia lain. Proses output yang berbeda-beda ini yang dalam ilmu psikologi disebut subjektif. Banyak hal yang mempengaruhi output yang berbeda oleh manusia terhadap satu input :

a. ilmu/pengetahuan yang dimiliki

b. pengalaman sebelumnya

c. asumsi/perkiraan

d. lingkungan

e. kondisi psikologis

Setiap zaman akan melahirkan generasinya

Bagi organisasi-organisasi mahasiswa (ormawa), masa penerimaan mahasiswa baru (inisiasi) menjadi momen yang tepat. Inisiasi dipercaya menjadi ladang subur untuk dapat menuai pemikiran dan pandangan baru nan segar dari ribuan mahasiswa baru yang masuk. Namun, kader dan kaderisasi, generasi dan regenerasi bukan pula tanpa masalah.  

Dalam prosesnya, organisasi mahasiswa menjadi pihak yang aktif bergerak. Organisasi harus bisa meluluskan motif transaksional, di mana si generasi baru dapat melihat dan mengambil keuntungan jika dia bergabung dengan organisasi yang bersangkutan. Motif ini merupakan sifat dasar manusia yang rasanya terlalu naif jika ditiadakan. Namun bukan berarti tidak ada generasi baru yang memang dengan tulus hati ingin membesarkan sebuah organisasi, dan mungkin orang-orang ini memiliki pandangan berbeda.

Di samping menonjolkan kelebihan yang dimiliki, setiap organisasi kiranya perlu juga membenamkan dalam-dalam, arti penting dan manfaat kehidupan berorganisasi di otak dan pemikiran mahasiswa baru. Mengingat sudah terlalu banyak mahasiswa apatis dan begitu nyaman merasakan ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi di sekitarnya. Baru teriak ketika tersenggol kepentingan pribadinya. Keberadaan kuantitas dan kualitas memang menjadi tolak ukur. Namun keseimbangan keduanya yang lebih diharapkan., kuantitas anggota bukan menjadi jaminan, bahkan bisa menjadi bumerang.

Loyalitas Musiman

Masalah jatuh kepada dualisme anggota, antara dia sebagai kelompok kolektif organisasi sekaligus juga sebagai seorang individu. Tidak sedikit mereka yang bergabung saat permulaan, dan setelah meneguk ataupun sama sekali tidak terpenuhi motif transaksionalnya, menghilang tanpa jejak di kemudian hari. Proses seleksi alam, juga terjadi. Mereka yang bergabung, namun tidak mengerti dan tidak melakukan apa-apa, lalu secara perlahan namun pasti, menjadi asap.

Kasus kedua rasanya lebih banyak terjadi, dan masih banyak menyimpan misteri. Yang kemudian patut dipertanyakan adalah sikap mental dan moralitas, serta tanggung jawab dan rasa kecintaan terhadap pilihan-pilihan kita sendiri. Idealnya kita harus berusaha mengakhiri (dengan baik atau buruk) apa yang telah kita mulai, dan itu jauh lebih bernilai hidupnya ketimbang menjadi orang yang ragu-ragu, bahkan kemudian tidak melakukan apa-apa dan putus di tengah jalan. Ketika hal terakhir yang terjadi, berarti banyak individu yang tidak bertanggung jawab, dan dalam proses regenerasi mereka seharusnya menjadi orang-orang yang ‘tidak terpilih’.

Bagaimana bentuk eksistensi Anda dalam memajukan organisasi kita? Semoga…..

“BERGABUNG DAN BERBICARALAH DALAM PERMAINAN INI…..

ATAU PERGI, BERHENTI, KEMUDIAN MATI UNTUK SELAMANYA….”

_________!!_________

*    Disampaikan dalam Diskusi di Musyawarah Anggota LPM Kentingan UNS pada Jum’at, 8 Januari 2010.

**  Pemimpin Litbang LPM Kentingan UNS tahun 2008/2009

Sumber:  1. Mengembangkan SDM dalam Fungsi Manajemen (Wawan Herdianto)

2. Otak, hati, dan pikiran penulis

SANG PEMIMPI, HOROR & PORNO

“JANGAN LUPA NGAJI SEBELUM NYANYI,BOY”

Kutipan diatas adalah bagian dari seni peran yang ditata sineas dalam film Sang Pemimpi. 15 jam yang lalu saya menontonnya di Studio 2 di salah satu mall di Solo. Lanjutan dari film Laskar Pelangi tersebut boleh saya bilang sangat berkualitas, dari segi pesan yang disampaikan. Terlepas dari sisi pengmbilan gambar dan lain sebagainya (saya sebenarnya belum mahfun dengan hal tersebut), secara keseluruhan, saya suka.

Ternyata, Indonesia masih mempunyai harapan yang luar biasa dalam hal (kualitas) perfilman. Laskar Pelangi, Sang pemimpi adalah contoh kecil bahwa horor atau porno tak selalu menjadi trend film lokal. Seharusnya demikianlah film-film di Indonesia. Menyediakan tempat bagi anak-anak dan remaja mendapatkan film berkualitas dan mendidik.

Semoga perfilman Indonesia selalu meningkat dan berkualitas. Semoga…

Bang, Rakyat Indonesia Menunggu

Didepan Laptop Axioo ini saya menunggu seorang tamu yang berjanji pukul 1o.oo sampai gubuk-ku. Sambil mendengarkan winamp dengan lagu-lagu populer saya sempatkan ngotak-atik FB + Blog.

Siapa yang akan datang? Ngapain? Ada urusan apa?

Adalah petugas dari Bank-nya Rakyat Indonesia (BRI) yang akan singgah sejenak untuk melihat kondisiku.

Setelah saya hubungi lewat ponsel N#### tipe ***** akhirnya dapat dipastikan yang datang adalah bu Mantri. Istilah  ‘Mantri’ yang satu ini saya mahfum baru 4 hari yang lalu.Selama ini mantri yang saya tahu adalah seorang ‘dokter’ hewan yang bertugas menyuntik (kawin) sapi atau hewan di desa.Kali ini yang datang adalah mantri BRI. hehe. Tugasnya hampir sama dengan mantri hewan, menyuntik. Suntikan obat dengan suntikan dana itulah bedanya.

Lebih dari 29 juta memang sedang saya proyeksikan untuk membuka Lembaga Pendidikan & Pelatihan Komputer yang akan diproyeksikan menjadi LPK (resmi pemerintah). Lokasi tetap berada di kota Gemolong. “Bali Ndeso Mbangun Deso” adalah prinsip yang saya ambil dari jargon kampanye Cagub Jateng beberapa waktu lalu. Semoga saja, demi memajukan ilmu pengetahuan khususnya di bidang Teknologi Informasi di Gemolong, Bank plat merah yang saya tunggu dapat membantu. Dengan seizin yang diatas tentunya.

LUN-MAY VS infoTAInment

Wartawan Infotainmen tak lebih baik dari pelacur

Itulah sedikit statement Artis LUNA MAYA dalam twitter-nya beberapa waktu lalu. Disini tak akan membahasSang Artisnya, namun sikap para wartawan yang melaporkan ke polisi perihal status tersebut.

PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) mengakui keberadaan WI(wartawan infotainment) sebagai anggotanya. Disisi lain, Aliansi Jurnalis Independent (AJI) menolak keberadaan mereka.

Terlepas dari hal diatas, seorang wartawan memiliki Kode Etik tersendiri dalam mengungkapkan berita. WI sering mengungkapkan hal-hal privasi yang tak patut dimediamassakan. Terlihat bahwa mereka hanya mengejar rating, khususnya di televisi. Saat ini rating menjadi ‘Tuhan’ baru di dunia pertelevisian. WI mengejar tingkat respon pemirsa tersebut dengan memberitakan hal-hal diluar kewajaran.

Dibandingkan dengan wartawan profesiaonal lainnya, WI lebih berani msuk kamar pribadi sang narasumber. Wartawan peliput politik misalnya, mereka cenderung wait and see narasumber. Nongkrong di teras kantor seharian hingga pejabat yang dimaksud keluar dan akhirnya diberondong pertanyaan. Sedangkan WI seringkali memanjat pagar rumah sang artis hingga aksi-aksi extrem lainnya, bahkan melebihi radikalnya jurnalist investigasi. Maka harusnya  WI lebih berbenah diri dalam melakukan pemberitaan dan proses peliputan.

LUNA MAYA? semoga dapat bertindak arif…