Oleh: weebee | November 29, 2011

PERLINDUNGAN SATWA LANGKA MASIH SANGAT LANGKA

Tulisan dibawah ini adalah versi asli dari tulisan saya yang dimuat di Harian Joglosemar 28 Nopember 2011.

Terdapat beberapa satwa langka di Indonesia diantaranya  badak bercula satu, komodo, burung cenderawasih dan orang utan. Keberadaan dan kelestariannya wajib dijaga oleh semua pihak. Pemerintah sebagai pemegang kendali sebisa mungkin membuat regulasi yang tepat dalam mencegah punahnya satwa langka tersebut. Beberapa langkah yang perlu dikembangkan antara lain: pemaksimalan suaka margasatwa sebagai  pelindung hewan langka. Saat ini, sedikitnya 73 lokasi suaka margasatwa dimiliki Indonesia, kesemuanya harus dimaksimalkan. Selain itu, pemerintah juga mengembangkan cagar alam untuk melindungi dan melestarikan hewan langka. Inseminasi buatan (penyuntikan sperma dari hewan jantan pada hewan betina)juga sangat diperlukan untuk membantu mempertahankan populasi, agar jumlah satwa langka semakin besar.

Selain pemerintah, masyarakat tentunya berperan cukup besar dalam menjaga kelestarian. Masyarakat dapat membentuk komunitas-komunitas atau lembaga swadaya msyarakat yang fokus terhadap perlindungan satwa langka di Indonesia. Jika kedua unsur, baik pemerintah dengan regulasinya dan masyarakat dengan kepeduliannya bersatu dan bekerjasama maka tak ada lagi cerita punahnya satwa langka di Indonesia.

Oleh: weebee | November 11, 2011

KHUTBAH YANG MENGGELISAHKAN

 

Khutbah artinya pidato. Tetapi menurut rasa bahasa kata khutbah selalu diartikan sebagai pidato keagamaan. Dalam tradisi Islam yang paling banyak dijumpai adalah khutbah Jum’at. Tentang perkembangan khutbah Jum’at di Tanah Air akhir-akhir ini menarik untuk dicermati, baik dari segi pelaksanaan jumlah salat Jum’at yang semakin bertambah maupun materi khutbahnya yang warna-warni.
Menurut ajaran fiqihnya, mendengarkan khutbah dan melaksanakan salat Jum’at hukumnya sama-sama wajib, meskipun pada praktiknya banyak juga orang yang datang terlambat mendengarkan khutbah. Yang mengagetkan, ada beberapa orang yang sengaja mau salatnya saja, namun enggan mengikuti khutbahnya. Mengapa? Karena isi khutbahnya bukannya menenangkan hati dan pikiran, tetapi malah menggelisahkan. Demikian seorang eksekutif muda menyampaikan keluhannya pada saya.

Kritik dan keluhan terhadap materi khutbah Jum’at tidak sulit ditemukan. Belum lama ini lembaga penelitian Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta mengadakan penelitian profil masjid di Jakarta dan Solo. Sengaja masjid-masjid Solo diteliti karena di wilayah ini muncul gerakan radikal keagamaan. Bahkan beberapa pelaku teroris memiliki kaitan dengan faham keagamaan yang berkembang di Solo.
Berdasarkan hasil penelitian, beberapa masjid di Jakarta dan Solo – dan mungkin sekali juga di kota lain -  terbagi ke dalam beberapa kategori. Ada masjid yang dikuasai oleh jamaah NU, Muhammadiyah, pemerintah, independen, dan kelompok-kelompok keagamaan tertentu. Perbedaan afiliasi pengurusnya akan berpengaruh pada pilihan khatibnya serta materi khutbahnya. Bahkan sampai pada tingkat tertentu juga faham fiqih ubudiyahnya dan jamaah tetapnya.
Umumnya masjid NU dan Muhammadiyah faham keislamannya lebih moderat. Dulu, antara dua komunitas ini memang saling kritik dan serang, termasuk ketika ulamanya berkhutbah atau ceramah keagamaan. Tetapi sekarang semakin menipis konflik itu dan bahkan dua ormas ini dikenal sebagai penjaga tradisi Islam Indonesia yang moderat serta pengawal Pancasila yang konsisten. Hanya saja ketika masuk ke wilayah politik dan kekuasaan, polarisasi antara keduanya masih muncul.
Membajak Mimbar Masjid  
Khususnya menjelang pemilu, forum dan mimbar Jum’at sering dibajak untuk kampanye terselubung. Kata “dibajak” mungkin terlalu keras, tetapi itulah yang terjadi, yaitu penyalahgunaan mimbar ibadah untuk tujuan politik golongan. Terlebih lagi jika pengurus masjid itu memiliki afiliasi kuat dengan parpol tertentu. Mimbar Jum’at ini memang strategis untuk kampanye dan melakukan indoktrinasi karena yang ada adalah monolog, khatib sebagai pembicara tunggal yang

tidak boleh ada interupsi dan pertanyaan. Saya dengar kasus serupa juga terjadi di lingkungan mimbar gereja. Tetapi di masjid lebih terbuka sifatnya karena khutbahnya menggunakan loud-speaker sehingga orang lewat pun bisa mendengarkan.

Yang menjadi perhatian dalam tulisan ini adalah tampilnya khatib-khatib yang isi

khutbahnya provokatif, sehingga membuat jamaah bukannya malah tenang melaksanakan ibadah Jum’at, melainkan malah gelisah. Dalam penelitian itu ditemukan isi khutbah yang sering menjelekkan sesama umat Islam yang berbeda faham mengenai hal-hal yang tidak prinsipiil dan memang dimungkinkan berbeda.

Ada lagi khutbah yang provokatif mengajak perang, padahal kita hidup di daerah da

mai (darussalam). Kutukan pada Israel selalu muncul pada setiap khutbah Jum’at. Dan umat Islam mesti bangkit melawan mereka di manapun berada. Lebih lanjut lagi, siapa yang bersahabat dengan umat Yahudi adalah musuh Islam, sementara Amerika Serikat adalah pendukung setia Israel negaranya bangsa Yahudi. Maka siapapun yang bersahabat dengan AS dan belajar ke AS adalah mus

uh umat Islam. Oleh karena itu hati-hati dengan agen dan antek AS yang berbaju Islam.

Logika dan provokasi di atas tentu menyesatkan. Mereka tidak menyadari bahwa di AS dan Eropa sendiri saat ini justeru tengah dihadapkan pada proses Islamisasi yang sangat intens. Kalau di sini bermuncul

an gereja, maka di Barat bermunculan masjid. Jadi, sebaiknya khutbah Jum’at itu yang mencerahkan dan mencerdaskan jangan malah menggelisahkan tanpa data dan logika yang akurat.

Kalau tidak, orang akan enggan ke masjid untuk mendengarkan khutbah, dan kalaupun datang hanya untuk tidur menunggu salat. Hasil penelitian UIN dimaksud menarik direnungkan oleh para khatib dan pe

ngurus masjid, janganlah masjid yang suci dan mulia dibajak oleh agenda kelompok yang malah meresahkan umat.

Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

File asli diambil dari http://www.metrotvnews.com/read/analisdetail/2011/11/08/219/Khutbah-yang-Menggelisahkan

Oleh: weebee | Oktober 1, 2011

KAMPUS HIJAU DIMULAI SAAT INI JUGA

 Tulisan berikut adalah versi asli dari tulisan yang dimuat pada rubrik persepsiku akademia harian JogloSemar 26 September 2011.

Ada beberapa indikasi di dalam pelaksanaan green campus diantaranya adalah kehijauan kampus, pemanfaatan ruang, efisiensi energi, penggunaan air, pengolahan limbah, dan sistem transportasi yang ramah lingkungan. Jika kesemuanya dapat dimaksimalkan maka kampus tersebut patut disebut sebagai kampus hijau.

Dalam praktiknya pihak pemangku kekuasaan di kampus masih kerepotan dengan bagaimana dapat mewujudkan kampus hijau?. Sebagian kampus terbentur dengan masalah lahan kosong yang minim, di kampus lain terhambat oleh masih banyaknya mahasiswa yang memakai kendaraan bermotor dikarenakan jarak tempat tinggal yang relatif jauh dari kampus.

Ternyata tidak mudah mewujudkan kampus hijau yang ideal. Kemudian bagaimana cara sederhana untuk merealisasikan program tersebut?. Ada beberapa opsi diantaranya memaksimalkan taman kampus yang telah ada atau menggunakan celah kosong di kampus untuk ditanami tumbuhan hijau dengan sarana pot bunga. Selain itu meminimalisir penggunaan energi listrik dengan langkah mematikan lampu, kipas angin atau ac saat ruangan tersebut kosong.

Dalam hal pengolahan limbah, setiap kampus setidaknya menyiapkan tempat sampah dan membedakan berdasarkan jenisnya. Bekerjasama dengan pihak ketiga juga dapat dilakukan untuk proses pengolahan limbah tersebut, misalnya bekerjasama dengan pengelola ‘bank sampah’. Sedangkan untuk mengurangi volume kendaraan bermotor, dibeberapa kampus telah diberlakukan peraturan bagi mahasiswa baru untuk menggunakan sepeda angin. Semua langkah diatas harus diawali dengan sosialisasi dan pemahaman yang benar tentang program kampus hijau.

Dengan melakukan hal-hal kecil tersebut kelak akan terlaksana program besar kampus hijau.  Tentunya dengan dukungan regulasi serta kesadaran seluruh warga kampus untuk menaatinya. Alhasil, kampus menjadi hijau, udara sejuk tanpa polusi, bersih tanpa sampah yang menjadikan proses pendidikan menjadi lebih baik.

 

Oleh: weebee | September 23, 2011

KARAKTER DISIPLIN

Tulisan saya ini hanyalah sedikit coretan yang telah dimuat di harian JogloSemar pada Kamis, 22 September 2011 di rubrik persepsiku halaman akademia. Ini versi asli sebelum diedit oleh pihak koran.

 Disiplin memang faktor utama sebuah keberhasilan. Namun dalam kehidupan kita, khususnya dalam lingkungan civitas akademika, sikap disiplin masih sangatlah kurang. Meskipun tidak dapat dipukul rata, hal ini menggejala di setiap diri mahasiswa. Mengapa? Salah satu faktornya adalah tidak adanya karakter disiplin dalam setiap pribadi mahasiswa. Karakter sendiri terbentuk dari sebuah tingkah laku yang dilakukan berulang-ulang dan terus menerus sehingga menjadi kebiasaan. Maka diperlukan solusi agar mahasiswa memiliki pribadi yang berkarakter disiplin. Antara lain membiasakan diri membuat agenda kegiatan, baik agenda harian, mingguan atau bulanan. Sebisa mungkin agenda yang telah dibuat ditaati dan wajib dijalankan sesuai waktunya. Kapan waktu kuliah, belajar, olah raga, ibadah dll. Selain itu perlu adanya lingkungan yang mendukung untuk berdisiplin. Karena kedisiplinan akan sulit diwujudkan bila lingkungan di sekitar kita masih menganut jam elastis alias jam karet. Jika kita mengikuti komunitas atau unit kegiatan, sebisa mungkin membuat komitmen bersama tentang kedisiplinan. Misalnya saja dalam rapat, usahakan tepat waktu sesuai jam yang tertera di undangan. Hal-hal kecil tersebut sedapat mungkin dilakukan sebaik mungkin. Akhirnya setelah diri dan lingkungan kita dapat diajak bersikap disiplin niscaya dalam lingkup yang lebih besar, negara misalnya, akan mempunyai karakter disiplin yang mengantar kepada kesuksesan.

Oleh: weebee | Juli 28, 2011

WANG SINAWANG

Guru: ” Enak ya jadi pegawai bank, tiap hari pegang duit terus”

Pegawai Bank: “Enak ya jadi guru, jam 2 siang udah istirahat di rumah”

Bupati: “Enak ya kalo jadi presiden, tinggal perintah-perintah aja”

Presiden:”Enak ya jadi bupati, cuma ngurus sedikit wilayah”

Pernahkah kita merasakan menjadi orang lain itu lebih enak?? Pernahkah kita merasa menyesal menjadi diri kita sendiri??. Meskipun hanya terlintas dipikiran, saya rasa kita semua pernah membayangkannya.

Ada pepatah “Rumput tetangga nampak lebih hijau”. Padahal tetangga kita juga merasakan rumput kita lebih hijau. Itulah manusia, orang jawa sering mengistilahkan ‘WANG SINAWANG‘,  sawang berarti melihat/menilai. Jadi secara bebas dapat diartikan saling melihat atau saling menilai.

Syeh Siti Jenar, seperti di dalam buku yang pernah saya baca, manusia hidup didunia ini dikendalikan oleh ‘persepsi’. Padahal Tuhan tidak berkehendak sesuai persepsi kita namun sesuai persepsi Tuhan. Parahnya, persepsi manusia tidak sesuai dengan persepsi-Nya. Kebanyakan manusia melihat sesuatu dengan ego.

Kita punya pandangan bahwa orang yang kaya+punya jabatan adalah orang yang terhormat, namun tuhan menilai orang yang hidup sesuai kata-kataNya adalah yang lebih baik. Masih banyak lagi perbedaan persepsi diantara kita dengan Tuhan.

Kembali ke wang sinawang, jangan kira orang yang kita anggap enak hidupnya merasakan sesuai persepsi kita. Ketika kita tanya ke orang tersebut, pastilah ia membeberkan betapa sulit kehidupannya yang kemudian dibandingkan pula dengan orang lain. Karena kita diciptakan Tuhan dengan masing-masing masalah. Saya dengan masalah saya sendiri sedangkan Anda pun hidup dengan masalah Anda sendiri.

Ketika 5 orang berkumpul, masing-masing dari mereka diberi ‘soal’ oleh Tuhan yang diharapkan bisa diselesaikan. Jadi marilah menilai semua dengan fair, semua yang terlihat dengan mata telanjang tidak sesuai dengan kenyataan. Yang terpenting dalam menghadapi masalah adalah kepercayaan bahwa “Tuhan tidak akan memberi ujian diluar kemampuan kita”. Akhirnya, akhiri wang sinawang, mari mengerjakan ‘soal’ dari Tuhan. Masalahku masalahku, masalahmu masalahmu.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.